Inews Nanga Bulik – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng) menggelar Konsultasi Publik Taman Hutan Raya (Tahura) sebagai bagian dari proses pematangan rancangan blok pengelolaan baru. Kegiatan ini menjadi langkah penting untuk memastikan tata kelola Tahura ke depan lebih terarah, berkelanjutan, serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Melibatkan Akademisi, Pemerintah, dan Masyarakat
Konsultasi publik yang berlangsung di Palangka Raya ini dihadiri berbagai unsur, mulai dari perangkat pemerintah, akademisi, organisasi lingkungan, hingga masyarakat sekitar kawasan Tahura. Pemerintah menilai partisipasi publik sangat penting agar penyusunan blok pengelolaan tidak hanya terpaku pada teknis, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan sosial-ekologis.
“Masukan dari masyarakat dan para ahli menjadi dasar kami memperbaiki rencana pengelolaan Tahura agar lebih komprehensif,” kata salah satu pejabat dari Dinas Kehutanan Kalteng.
Pemprov Matangkan Lima Blok Pengelolaan
Dalam konsultasi tersebut, Pemprov Kalteng memaparkan rancangan blok pengelolaan baru yang terdiri dari beberapa zona fungsi. Lima blok yang tengah dimatangkan di antaranya:
-
Blok perlindungan, difokuskan pada konservasi ekosistem dan keanekaragaman hayati.
-
Blok pemanfaatan, untuk kegiatan wisata alam, penelitian, dan pendidikan lingkungan.
-
Blok rehabilitasi, sebagai area pemulihan lahan kritis.
-
Blok penyangga, yang menjaga stabilitas ekologis kawasan inti.
-
Blok khusus, disiapkan untuk pengelolaan tertentu sesuai karakteristik lahan.
Pemerintah menegaskan bahwa rancangan ini masih bersifat sementara dan akan disempurnakan berdasarkan hasil konsultasi publik.

Baca juga: Pembukaan Turnamen Basket 3on3 Pelajar Mura Hebat
Fokus pada Konservasi dan Edukasi Lingkungan
Tahura di Kalteng memiliki nilai ekologis tinggi karena menjadi habitat berbagai flora dan fauna endemik Kalimantan. Pemerintah ingin memastikan pembagian blok pengelolaan tidak merusak ekosistem inti dan tetap memperhatikan fungsi konservasi jangka panjang.
Selain itu, pemanfaatan Tahura untuk pendidikan lingkungan dan penelitian turut menjadi prioritas. Pemerintah berharap kawasan ini dapat menjadi laboratorium alam bagi siswa, mahasiswa, serta peneliti di bidang kehutanan dan ilmu lingkungan.
“Kalteng memiliki potensi besar untuk pendidikan konservasi. Tahura harus menjadi pusat belajar, bukan sekadar objek wisata,” ungkap seorang akademisi dari Universitas Palangka Raya.
Dukungan untuk Pengembangan Ekowisata
Meski fokus utama adalah konservasi, Pemprov Kalteng juga menyiapkan ruang bagi pengembangan ekowisata. Beberapa bagian Tahura dinilai memiliki potensi wisata alam yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan, seperti jalur trekking, wisata edukasi, hingga fasilitas pengamatan satwa.
Pemerintah menegaskan bahwa segala bentuk pemanfaatan wisata akan tetap mengedepankan prinsip ekologis agar tidak menimbulkan kerusakan.
Masyarakat Beri Masukan Soal Akses dan Perlindungan Kawasan
Dalam diskusi, sejumlah perwakilan masyarakat meminta agar akses menuju kawasan Tahura diperbaiki. Mereka juga menyoroti pentingnya penegakan hukum terhadap aktivitas ilegal seperti perambahan hutan dan perburuan satwa dilindungi.
Warga berharap keberadaan blok pengelolaan baru mampu memberikan kejelasan aturan dan batasan aktivitas di sekitar Tahura.
Tahap Akhir Menuju Finalisasi Dokumen
Setelah konsultasi publik ini, Pemprov Kalteng akan menyusun revisi rancangan berdasarkan masukan peserta. Dokumen blok pengelolaan yang telah direvisi akan melalui tahap verifikasi teknis sebelum ditetapkan secara resmi.
Pemerintah berharap rancangan akhir bisa rampung dalam waktu dekat agar pengelolaan Tahura lebih terarah, efektif, dan berdampak positif bagi konservasi maupun kesejahteraan masyarakat.















